36 Balita di Tulung Agung Teridentifikasi Alami Gizi Buruk

Tulungagung – Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, mengidentifikasi sebanyak 36 balita mengalami gizi buruk yang ditandai dengan ketidakseimbangan antara berat badan dan tinggi badan pada usia tertentu.

“Ini temuan selama kurun Januari hingga Desember 2019. Dari jumlah itu, sebagian sudah ada yang membaik,” kata Kepala seksi KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) dan Gizi Dinkes Tulungagung, Siti Munawaroh di Tulungagung, Senin.

Kasus gizi buruk pada puluhan balita itu sebenarnya tidak sepenuhnya disebabkan asupan yang kurang baik dan sehat.

Tetapi banyak dilatarbelakangi kondisi kesehatan balita yang mengidap penyakit dalam dan sebagian kronis, seperti tuberculosis (tb), kanker, jantung dan sebagainya.

Mereka ditemukan menyebar termasuk di 19 kecamatan.

“Banyak faktor pemicunya. Mulai dari adanya penyakit penyerta, faktor ekonomi, pola asuh yang salah ataupun faktor lainnya,” tambahnya.

Siti menyebutkan, balita dengan gizi buruk berakibat pada pertumbuhan anak.

Oleh karennya, dia mengingatkan agar orang tua memperhatikan asupan gizi anak.

“Sangat disarankan untuk mengoptimalkan pemberian ASI minimal sampai usia dua tahun masa pertumbuhan anak,” katanya.

Selain itu, lanjut dia orang tua wajib mengikutkan balitanya dalam program posyandu.

Sebab, dengan rutin menimbang anak tiap bulannya, akan mengetahui pertumbuhan anak apakah berat badan dan tinggi badannya sesuai dengan usianya dan atau berat badan dan tinggi badan ini sesuai kurva atau tidak.

“Kebanyakan, temuan ini diketahui ketika posyandu,” ujarnya.

Selain faktor penyakit penyerta, gizi buruk juga rentan terjadi pada bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR).

Sebab, kondisi bayi BBLR ini membutuhkan penanganan khusus. Bahkan, harus ada pendampingan dari sisi gizi, agar berat badan anak bisa segera terkejar sesuai usianya. Dengan begitu, bisa segera melepas status gizi buruknya.

Dalam penanganan kasus gizi buruk ini, lanjut Siti melibatkan lintassektor, seperti PKK, penggiat sosial, keluarga, perangkat desa, masyarakat sekitar dan lainnya.

Hanya saja, pihaknya tetap berupaya pendekatan pada keluarga khususnya untuk meminta ibu atau walinya rutin menimbang anak yang masih balita agar mudah dalam pemantauan pertumbuhan anak.

Selain itu, juga mengupayakan perbaikan asupan gizi balita yang mengalami gizi buruk, misal memberikan susu atau biskuit. (Ant)